Rabu, 13 Agustus 2008

Zaman Edan ( Rekomendasi )




Buku yang terakhir aku baca, sangat menarik. Menggambarkan kondisi Indonesia dari sisi lain yang digambarkan oleh media di Indonesia.

khatulistiwa.net :

"...gambaran nyata tentang sebuah bangsa yang sedang meluncur ke titik terendahnya ..." —Literary Review (London) "Yang terbaik dari buku sejenis, muncul dari tengah kekacauan menjelang kebangkrutan pemerintahan Suharto pada 1998 ..." —Financial Times Magazine (London) Zaman Edan. Buku penuh fakta mengejutkan ini menuturkan kisah reportase wartawan terkemuka Richard Llyod Parry di Indonesia antara 1996-1999.

Dia meliput dari dekat dan mengalami langsung peristiwa pembantaian etnis dan kanibalisme di Kalimantan pada 1997 dan 1999, demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan massal di Jakarta 1998, serta pembumihangusan Timor Timur oleh milisi dan tentara Indonesia menyusul jajak pendapat yang mengantarkan kemerdekaan negara itu pada 1999.

Ditulis dengan lancar, akrab, dan enak dibaca, buku ini membuka mata kita akan segala peristiwa kelam di negeri ini yang kerap ditutup-tutupi, sekaligus mengajak kita merenungkan kembali makna reformasi setelah 10 tahun rezim Orde Baru tumbang dan memaknai momen 100 tahun kebangkitan nasional.

resensi Alfian Hamzah :

Saya masih di bus kota saat pertama kali menyentuh terjemahan buku Richard Llyod Perry, Zaman Edan: Indonesia di Ambang Kekacauan ini. Bensin baru naik, orang masih merepet soal macet, dan di awal buku itu saya mendapati sesuatu yang mendorong saya ingin segera menyerahkannya ke gadis di sebelah untuk dibarter dengan nomor telepon.

Maafkan sarkasme ini. Tapi di 10 halaman intro, saya melihat ada satu puisi Goenawan Mohamad tentang dewa dan tikus yang saya tak paham persisnya, lalu ada cerita ini itu soal keindahan Bali, burung-burung bangau, hutan magis, dan nama-nama kota yang, katanya, bisa “bergema dan bergumam”, seperti “lirik dan syair”.

Buru, Fakfak, Manokwari,Ujungpandang, Probolinggo,Nikiniki, Balikpapan,Halmahera, Berebere.Gorontalo, Samarinda,Gumzai, Bangka, Pekalongan,Wotalari, Krakatau,Weta, Kisar, Har, Viqueque!

Saya masih bisa menerima itu. Tapi saat dia menuturkan perjumpaannya yang berulang dengan seorang bernama Kolonel Mahmud di alam mimpi, saya rasanya ingin menjerit.
Mimpi? Hari begini?

Tapi membaca lagi, saya mendapati sarkasme hanya bisa sampai di situ.
Setelah membuka sebuah halaman berjudul “Musibah Mendekati Aib: Kalimantan 1997-1999”, membalik sebuah peta Pulau Kalimantan yang kekasarannya sepintas mirip kawasan seram di zaman Neanderthal, saya mendadak berhadapan dengan sebuah sensasi aneh.

Lima menit pertama, saya tiba-tiba ragu adakah Mun’im Idris orang pertama yang harus saya temui atau justru Goris Mere. Sepuluh menit berikutnya, saya berpikir untuk segera menelepon dealer senjata di Singapura, bertanya kalau-kalau ada M-16 Armalite yang tersedia untuk pengiriman secepatnya.

Saya tidak mengada-ada. Di bagian itu, Richard mengisahkan pembantaian orang-orang Madura di pedalaman Kalimantan Barat. Ini bukan sekadar cerita banyak yang mati lalu sudah. Ini jauh lebih seram. Pelakunya, orang-orang Dayak, memenggal setiap kepala yang terbunuh. Mereka membelek punggung, mengambil jantung, lalu memakannya selagi segar. Kadang mereka memotong kecil-kecil bagian yang empuk, seperti paha dan lengan, lalu memanggangnya di atas api, lengkap dengan tusukan kayu. Sate. Dan inti dari semua cerita seram itu jadi alasan saya mengkhayalkan M-16: tentara Indonesia gagal mencegah kebiadaban orang Dayak meski “pembersihan etnis” itu terjadi lebih dari sekali.

Teve dan koran telah melaporkan kanibalisme di Kalimantan dan kegagalan tentara menghadirkan ketenteraman di tahun-tahun itu. Tapi Richard berdiri sendiri karena memilih menyampaikan pesan utamanya lewat sebuah mesin penceritaan non-fiksi yang mutakhir.
Anda bisa tiba-tiba merasa berdiri di samping Richard, melihat dengan mata kepala sendiri keberuntungan orang-orang Madura menipis detik demi detik, sebelum “kepala-kepala ditebas dari tubuh dan manusia memakan daging manusia”. Anda juga bisa mendengar pekik seram “Wu—wu-wu-wu-wu” dari dalam hutan dan Richard segera membisiki Anda arti persisnya: ada Madura yang sedang terpojok.

Kelas-kelas jurnalisme modern rutin mengajarkan seni penyajian fakta reportase yang dalam dan memikat (kadang dalam subjek Jurnalisme Sastrawi). Peminatnya selalu banyak, teorinya bisa dua semester meski jika diperas sederhana saja: wartawan seharusnya bisa menyajikan laporan seperti novelis meniupkan ruh pada cerita fiktif.

Teknik ini mengharuskan wartawan meminjam mata sinematografer. Dia harus mencatat detail yang perlu, sebanyak mungkin. Dia harus merekam wajah, warna, ekspresi, suara, tempat, dialog, konflik, drama, ironi, konteks, perspektif, dan masih banyak lagi. Ini asam garam penceritaan, sesuatu yang jika takarannya pas, bisa menteleportasi pembaca ke mana saja.

Richard melakukan semua itu, termasuk saat menuturkan dua bagian lain bukunya: Tragedi Mei 1998 di Jakarta dan Referendum Berdarah 1999 di Timor Timur.
Favorit saya di halaman 123. Di situ dia mengabadikan adegan durjana di luar Montrado, lepas Kota Pontianak, pada Maret 1999. Dia, sebenarnya, lebih dari bisa melukiskannya dalam satu dua paragraf pendek (Dia koresponden luar negeri The Times, yang biasa menulis hard news). Tapi dia memilih sesuatu yang bukan pasaran. Ini contoh sentuhan sastra dalam reportase.

Richard awalnya menyapukan pandangan pada yang tampak di kejauhan. Dia mengajak kita melihat cepat: Selama tiga mil ke depan jalanan lengang. Kemudian pada sebuah pertigaan terlihat api unggun kecil di sisi jalan. Belasan orang Dayak sedang sibuk menjaga nyalanya.
Dia lalu menyuntikkan sedikit ketegangan: Pisau-pisau dan mandau dapat terlihat; di atas api itu, mereka sedang memasang alas untuk memasak. Lalu sebaris lagi: Di belakang mereka beberapa benda berwarna merah muda tergeletak di atas sebuah tembok rendah.

Di dua kalimat setelahnya, dia mengikat semua yang membayang sejak di pertigaan jalan: Saat kami lewat, saya melihat dua batang kaki, badan tanpa tungkai. Sesuatu yang lain, berangkali lengan, sedang diletakkan di atas api.Sekarang, dia sudah bisa terkekeh-kekeh. Dia tahu persis kalau kita dalam keingintahuan besar dan sedang memperhatikan segala gerak langkahnya. Dia lalu mengganti sudut pandang untuk menghadapi konsekuensi menghidupkan orang-orang Dayak di pertigaan itu dalam buku:
Orang Dayak itu sedang asyik melakukan persiapan barbeque, dan mereka mengabaikan jip kami.“Jangan berhenti, Petrus,” kata saya.

Richard, setelah meminta supir menjauh dari pertigaan, memunculkan sebuah karakter baru, “seorang kanibal” belasan tahun, yang kebetulan minta tumpangan.
Dia tak berkaus, katanya kembali memperkaya mata kita. Hanya mengenakan celana jeans yang rapi dan sepatu olah raga lusuh. Di tangannya dia membawa mandau tersarung….

Deskripsi mengalir hingga satu paragraf penuh. Richard lalu menempatkan sebuah kalimat dan dua kutipan dari kanibal remaja itu. Isinya mengembalikan mata kita pada adegan api unggul di pertigaan tadi:
Dia ceritakan kepada kami bahwa orang yang sedang mereka masak di jalan itu baru tertangkap pagi tadi. “Kami membunuhnya dan kami memakannya,” katanya, “karena kami benci orang Madura.” “Seringnya kami menembak mereka dulu, kemudian kami cincang tubuhnya. Rasanya mirip ayam. Terutama hatinya – persis seperti ayam.”
Ada dialog setelahnya. Richard memasang pertanyaan, mungkin jebakan. Dia ingin kita mengintip jiwa remaja itu. Sebuah ironi besar:
“Kami tidak membunuh bayi! Kalau kami bertemu bayi, kami memberikannya kepada orang lain …..”“Sampai batas umur berapa seseorang baru boleh kalian bunuh?”“Sekitar tiga belas tahun atau lima belas.”“Mengapa kalian membunuh mereka? Mengapa tidak kalian usir saja mereka semua?”“Karena kami benci mereka.”

Seseorang di Financial Times Magazine kabarnya bilang gaya bercerita Richard ada mirip-miripnya dengan Ryszard Kapuscinski. Bisa jadi. Tapi saya lebih tertarik menyebut sebuah fakta sedih dari buku ini: orang yang mengenang nasib mereka yang mati tanpa bela di Kalimantan, Jakarta, dan Timor Timur di tahun-tahun penuh darah itu adalah seorang wartawan berpaspor Inggris.
Buku ini monumen penghormatannya.
***

Senin, 11 Agustus 2008

Indonesia Super Liga

Saat ini di Semarang saya semakin keranjingan melihat pertandingan sepakbola nasional (baca : Indonesia Super Liga). Walaupun masih banyak kekurangan disana sini namun ada upaya tren positif dari semua stakeholder didalamnya untuk dapat mensukseskan gelaran tersebut.

Diluar kebencian saya kepada NH yang "gila jabatan" itu. Saya sangat menikmati pertandingan demi pertandingan di liga yang notabene, diselenggarakan oleh BLI sebagai kepanjangan dari PSSI tersebut. Terlebih di Std. Jatidiri Semarang sekarang menjadi homebase 2 tim peserta Liga Super yakni PSIS Semarang dan PSMS Medan yang harus "terusir" dari kota mereka.

Selama Liga Super berlangsung saya sudah menyaksikan 3 pertandingan secara langsung. Pertama ketika PSIS bermain dipartai perdana melawan PKT Bontang, dan 2 kali ketika PSMS bertindak sebagai "tuan rumah" melawan Persija dan Persela.





Pertandingan antara PSMS Medan melawan Persija Jakarta sangat berkesan bagi saya. Walaupun suasana stadion sangat sepi, saya sangat senang bisa melihat langsung para pemain bintang di Persija. Melihat aksi kapten tim nasional Indonesia Ponaryo Astaman yang pada piala Asia 2004 mencetak gol spektakuler melawan Qatar. Bambang Pamungkas dengan gemerlap prestasinya bersama Selangor FC (Bukti bahwa orang Indonesia bisa berprestasi di Malaysia bukan hanya sebagai TKI saja). Hendro Kartiko mantan kiper no 1 Indonesia.

Selain itu saya juga melihat pemandangan dari suporter yang sangat berbeda dengan suporter-suporter lain di Indonesia. Jakmania, mereka menyanyi hampir di sepanjang pertandingan tanpa mengenal lelah demi tim mereka, Persija. Namun ada hal yang aneh juga, banyak diantara mereka ikut datang jauh dari Jakarta ke Semarang. Tapi mereka tidak punya uang untuk membeli tiket masuk stadion dan hanya duduk-duduk di luar stadion. Lha kok bisa sampai Semarang ya??

Namun dibalik itu semua, dibalik ketidakjelasan jadwal pertandingan. Semoga Indonesia Super Liga bisa menjadi ajang yang menarik bagi semua insan sepakbola Indonesia... Bukan hanya ISL = Indonesia Semrawut Liga..